Pemenanag harapan LMCR 2009
Entah siapa yang mengajari Laila. Aku tidak tahu. Begitu pandai ia melukis. Tapi begitu pula miris mataku dibuatnya. Melihat lukisan yang terpajang di dinding kamarnya. Selalu saja lukisan yang berbau nisan. Kalau aku tanya kenapa ia tidak melukis bunga, kumbang, hati, rumah, atau dedaunan yang indah di puncak gunung talang ini, maka jawabannya hanya diam. Beku yang membekukan diam, seperti pada akhirnya membekukan mulutku untuk mengulang pertanyaan yang sama. Melainkan setiap kulihat lukisan-lukisan yang terpaku di dinding putih, hanya hatiku yang semakin teriris.


