Click this!!!

Visi Misi FLP Sumbar

Visi:
Organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan.
Misi:
1. Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
2. Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.
3. Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.
4. Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis.

Struktur Kepengurusan FLP Sumbar 2015-2016

Dewan Pertimbangan Pengurus
-Mardinata
-Ade Efdira
-Azwar
-Siska Oktavia
-Dewi Kumala Sutra
-Rahmah Eka Saputri

Dewan Pengurus Harian
Ketua Umum: Dodi Saputra
Sekretaris: Fitri Afriani
Bendahara : Desi Soneta

Divisi-Divisi
Divisi Kaderisasi
Koodinator: Fadli Hafizulhaq
Anggota :Abdullah Halim
Anisa Afifatul Akhiar
Wetri
Zira Delvira
Rully Arifin
Gita Aulia Putri

Biro Kerohanian
Koodinator: Rofiq L Hayat
Anggota : Furi Anggraini

Divisi Humas
Koodinator: Asrival
Anggota : Sri Rahayu
Ririn
Wiwit PS
Olin

Biro Media
Koodinator: Abdullah Husein
Anggota : Hazzah Rawani Vaulin

Divisi Bisnis
Koodinator: Rahmat Hidayat
Anggota : Igara vanda arivano
Dewi
Humaidah
Abdullah Hasan

Agenda Terdekat FLP

Sabtu, 13 Agustus 2016
Open Recruitment Akbar FLP Sumbar
Tempat: Balai Kepustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat




Title 4

Isi konten 4

Title 5

Isi konten 5

More on this category »

More on this category »

More on this category »

More on this category »

Postingan Terbaru


Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2012

Mayati

Oleh : Syerli Yenita
Antologi Cerpen FLP Sumbar yang berjudul “Air Mata Sunyi” yang diterbitkan oleh AG Publishing pada Maret 2012 lalu.

Mayati nama gadis itu. Seorang gadis kampung nelayan di sebuah pulau kecil tepian pesisir Sumatera.  Tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya. Bapaknya dulu seorang nelayan, telah lama mati dibunuh orang tak dikenal dua tahun lalu. Adik lelaki Mayati memilih merantau ke pulau Jawa, menggantikan posisi Bapaknya sebagai kepala keluarga menafkahi mereka. Berhenti di bangku kelas dua SMA dan pergi berlayar, sudah enam bulan lamanya.

Sabtu, 24 November 2012

Rinai-Rinai Hujan Panas

Cerpen Alizar Tanjung
Terbit di Haluan, 31 Januari 2010 

Ia datang kepadaku pas hujan-hujan sedang rinai di senja-senja raya.  Aku tak tahu kenapa ia begitu terburu-buru. Tak sempat ia tutup pagar bambu. Sesudahnya ia sudah saja tiba di halaman. Basah, kuyup, melekat di badan, begitulah gambarannya di senja raya.

Senandung Riyadlotu di Bukit Malam

Cerpen Alizar Tanjung
Cerpen nominator lomba cerpen Nasional yang diadakan Stain Purwokerto 2010

ke dalam Allah kita berlari mengejar aku
binar yang menyentuh lembut hati
seperti bulan dalam nur memetik malam
mencuri setiap lafaz yang berkumandang menghias malam
ini tamantaman yang terlahir dari telaga
hambahamba yang meneteskan air mata di sajadah
dan kita masih mencaricari aku

Riyadlotu tuliskan satu puisi di buku diary berkulit putih, di atas meja kecil dekat jendela, di bawah cahaya damar, dekat al Qur’an. Ia pandang bulan. Kembali ia tuliskan satu baris.
Ayatayat Tuhan ayatayat, aku

Susi Ingin Azan

Cerpen Alizar Tanjung
Terbit di Berita Pagi


            Sehabis subuh minggu, Susi datang menangis-nangis sambil berlari dari masjid tuo[1] di tengah kampung. aku tak tahu kenapa dia menangis. Yang jelas saat ia menaiki pendakian sampai ke Rumahgadang ini, ia datang sambil menghusap-husap matanya, membiarkan mukenahnya menghapus jejak tanah basah malam tadi, membiarkan rambutnya acakan keluar dari tepi kening mukenah. Kenapa dengan anak manisku, sungguh aku tidak tahu. Belum sempat ia sampai di pintu aku sungguh tak menduga. Aku jadi heran kenapa jadi begini, tidak pernah Susi seperti ini. “Ma, Susi mau azan, Ma!” permintaanya yang terdengar setengah teriak.

Aku Kupu-kupu Coklat

Cerpen Alizar Tanjung
Terbit di Annida
            Aku mengepakkan sayap coklat. Melawati malam memejamkan mataku di tonggal listrik, di bawah lampu jalan sungguh menjemukan. Pengembaraan yang seharusnya tak terjadi harus dimulai.
            Aku tak tahu apa benar apa salah kedatanganku ke kota manusia, ke kota orang sibuk, ke kota orang mati, ke kota budak manusia. Entah kota yang mana yang sedang kudatangi pada pagi ini, saat embun belum turun dari dedaunan, saat kokok ayam belum lama  berhenti, saat pagi masih menyisakan dingin di sayapku.

Bola Mata Bocah Kecil

Cerpen Oleh Alizar Tanjung
Terbit di Singgalang

            Hidup takkan berhenti serupa hayat yang menyerup di lukisan ini. Pandanglah ia. Kalau kau berani, kau kan menemukan bocah kecil, serupa aku menemukannya di pameran ini. Maka sewaktu-waktu kau harus menjelma serupa aku yang menyelam ke dalam bola matanya. Itu hanya sebahagian kisah. Sedikit yang perih dari sisa hidup. 
            Di ruangan pagelaran ini. Aku menangkap bola mata, menatap lama sebuah gambar di dinding sebelah utara. Tatapannya padaku bahwa kemarahannya bukanlah untuk dinikmati. Apalagi oleh aku yang tak tahu menahu pembuat lukisan kanvas ini, sebenarnya. Namanya yang ada di sudut kanan bawah hanyalah sebagai simbol. Bukankah kalau hanya sekedar nama, tanpa melihat wajah yang menyimpan dunia di kedua bola matanya, bearti aku sama saja sebagai penikmat lukisan yang belajar menjadi semu?

Batu Perahu

Cerpen Alizar Tanjung
Terbit di Singgalang


            Ana menatap ke luar jendela dari rumah panggung tanah melayu ranah Minangkabau, melepaskan pandangan lewat kain beranda yang ditiup angin. Begitu sudah menjadi kebiasaannya. Menemukan sesuatu, sosok batu berbentuk perahu di sudut taman dekat rumpun mawar. Ukiran ayah atas permintaan Ana dua tahun sebelum hari ini. Ia memandang batu perahu mungkin sudah ribuan kali. Setiap bangun subuh saat embun masih belum turun dari daun mawar, saat-saat dia menjelang makan, setiap dia menyiram bunga dengan ember berlobang yang diambil dari dekat sumur belakang rumah, setiap dia akan meninggalkan rumah, setiap dia melihat bulan dan bintang. Dia percaya dengan melihat bintang, dia dapat menentukan hari baik untuk mendayung batu perahu ke laut. 

Gadis Kecil di Perempatan Lampu Merah

Cerpen Alizar Tanjung

           Dia yang bermenung di bawah gardu lampu merah itu sambil memegang perut. Menantikan lampu bertukar roman dari satu warna ke warna lain.  Menanti lampu itu kembali merah sampai sekian detik. Kembali bermenung saat lampu itu menghijau untuk sekian detik. Pada saatnya sebelum lampu merah benar datang, akan melewati jalur kuning beberapa detik.  Dia yang datang tiba-tiba entah dari negeri antah barantah. Menatap setiap mobil dan motor yang lalu lalang di depan batang hidungnya, lalu memberikan senyum yang pasi bagi setiap pengguna jalan yang lewat. Seperti dalam kabut dia tak pernah menyesal dalam hidup. Tegar menghadapi liku yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan. Tapi apa boleh dikata dia sendirilah yang merasakannya. Gadis kecil yang membawa giringan tutup botol yang dirangkai sebagai alat musik seadanya, dengan rambut kucekan. Melewati setiap pintu dari angkot ke angkot jika lampu kembali merah. Menyanyikan segala yang dihafal, walau sebenarnya suaranya yang fales takkan membuat penumpang terhibur sedikitpun. Tapi itulah hidup ia harus berjalan dengan apa yang kita miliki.

Jumat, 23 November 2012

Hipnotis

Cerpen Shona Vitrilia 
Dimuat di Annida Online

Lagi dan lagi. Ramli memandangi poster workshop itu. Matanya tak terganggu oleh seekor ulat bulu yang melintas di atas poster. Padahal ia phobia ulat bulu. Benar-benar membikin phobianya hilang seketika, hanya karena sebegitu tertariknya ia akan workshop itu.
Begitu saja. Pulang dan pergi, melewati sebuah dinding yang ditempeli poster. Setiap pergi, ia akan singgah di sana. Pulang, sama saja. Ini adalah malam kelima sejak poster itu ditempel. Pikir-pikir apa yang hendak dilihatnya. Malam begitu kelam. Lampu jalan berjarak lima meter dari dinding itu. Tentulah tak tampak tulisan barang sedikit pun. Meski punya hape untuk memperjelas tulisan, tak pula ia gunakan, karena isi poster itu sudah terekam baik di pikirannya.
Sesampainya di rumah masih saja poster itu terbayang-bayang. Terdapat gambar membayang di bawah tulisan.

Mak Yunus

Cerpen Alizar Tanjung
Terbit di Sabili, edisi Desember 2010

Mak Yunus bersila seorang diri. Selesai salat subuh di surau. Ia kembali mengulang bacaan kajinya. Membaca surat al Baqarah. Terdengar suaranya yang serak berat. Suara yang sudah berpuluh tahun mengisi relung surau di pinggiran sungai kecil. Surau Tabek namanya. Letaknya di pinggiran sungai Tabek Pampangan.
Suara itu patah-patah sesuai patah-patah usia yang Mak Yunus miliki. Usia 63 tahun.
Mak Yunus sebenarnya sudah 50 tahun menghunyi surau. Semenjak orang tuanya meninggal. Orang tuanya meninggal karena penyakit tua.
Mak Yunus dilahirkan pada usia ibu bapaknya kepala lima. Kemudian Mak Yunus menjadi garin surau. Garin surau sebagai penyapu lantai. Pembersih halaman awalnya. Untuk menjadi imam, Mak Yunus belum balikh berakal.
Ketika memasuki usia 15 tahun, orang-orang mulai percaya kepadanya. Ia sudah balikh berakal. Orang-orang kampung Karang Sadah mempercayai ia menjadi imam. Jemaahnya bapak-bapak dan ibu. Imam sebelumnya, Angku Malin telah mati. Semenjak itu berakhir pucuk pimpinan imam tua. Untunglah ada Mak Yunus, begitu bisik hati jemaah Mak Yunus. Jemaah Mak Yunus berisi Subuh, Magrib, Isya. Zuhur dan Asar tidak ada jama’ah, kalau Mak Yunus Azan, Mak Yunus Bilalnya, Mak Yunus imamnya, Mak Yunus makmumnya.
 
Copyright © 2011. FLP Sumbar: Cerpen . All Rights Reserved
Template modify by Creating Website. Remodified by Aini